Misquoting Jesus
Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini : “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis dalam kitab ini.”
(Wahyu 22 : 18 – 19, bagian paling akhir dari Alkitab)
Kata-kata Yesus tak mungkin salah.
Para pengutip, penerjemah dan penafsirnya yang mungkin salah.
• Dalam Markus 2, diceritakan Yesus sedang digugat oleh orang-orang Farisi karena murid-muridnya berjalan melintasi ladang gandum, memakan bulir gandum pada hari Sabat. Yesus ingin memperlihatkan kepada orang-orang Farisi bahwa “hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Dengan demikian mengingatkan mereka tentang apa yang dilakukan Raja Daud dan orang-orangnya yang sedang kelaparan sewaktu memasuki Rumah Allah dan memakan roti persembahan. Di situ dituliskan “sewaktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar.” (Markus 2:26)
Akan tetapi, ada nama yang salah dalam dikutip dalam peristiwa yang dirujuk Yesus (atau dalam hal ini dikutip Markus). Dalam Perjanjian Lama itu (1 Samuel 21:1-6), ternyata tertulis bahwa bukan Abyatar yang menjadi Imam Besar saat Daud melakukan hal itu. Tetapi ayah Abyatar, yaitu Abimelekh yang menjabat sebagai Imam Besar. [1]
(silakan cek Alkitab masing-masing)
Yesus tak mungkin salah.
Lalu apakah Perjanjian Lama yang salah?
Atau Markus yang salah mengutip Yesus?
Atau penyalin lain yang salah mengutip tulisan Markus?
Meskipun ini kesalahan kecil dan hanya sekedar nama, tapi hal ini berarti
bahwa kata-kata dalam Alkitab tidak “tidak bisa salah.”
Apalagi yang dikutip adalah perkataan Yesus sendiri.
• Pada 1715, Johann J. Wettstein, yang mendalami Kodeks Aleksandrius menemukan adanya pengubahan kecil (yang membawa implikasi besar) dalam 1 Timotius 3 : 16. [2] Ayat ini sudah lama digunakan untuk mendukung pandangan bahwa Perjanjian Baru sendiri menyebut Yesus sebagai Allah. Kebanyakan penulis/penyalin manuskrip, termasuk Kodeks Aleksandrius menyingkat nama-nama suci (nomina sacra), di mana semua kata bahasa Yunani untuk Allah (ΘΕΟΣ) disingkat dalam dua huruf, theta dan sigma (ΘΣ), dengan sebuah garis di atas guna menunjukkan bahwa kedua huruf itu adalah singkatan. Apa yang ditemukan Wettstein adalah bahwa garis di atas itu dibuat dengan tinta yang berbeda dengan tinta di sekitarnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa garis itu dibuat belakangan oleh penyalin lain. Selain itu, garis horizontal di tengah huruf yang pertama, Θ, bukanlah bagian yang sesungguhnya dari huruf tersebut. Melainkan garis yang menembus dari balik halaman tua itu. Jadi kata itu sebenarnya bukanlah singkatan theta dan sigma (ΘΣ) untuk Allah, melainkan omikrom dan sigma (OΣ), yang artinya “siapa.” Dengan kata lain, kata itu tidak bicara tentang Kristus sebagai “Allah yang dibuat nyata dalam daging,” tetapi tentang Kristus “yang dibuat nyata dalam daging.”[3]
• Saat membuat edisi pertama Perjanjian Baru bahasa Yunani, Desiderius Erasmus menemukan bahwa ayat 1 Yohanes 5:7-8 dalam manuskrip-manuskrip sumber yang ia pakai[4] berbeda dengan yang tertulis dalam versi Vulgata Latin[5] (yang seperti ditulis dalam Alkitab Bahasa Indonesia sekarang) : sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga : Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi ): Roh, air dan darah dan ketiganya adalah satu.[6]
Tetapi Erasmus tidak menemukannya dalam manuskrip-manuskrip Yunani miliknya, yang hanya tertulis : ada tiga yang memberikan kesaksian, roh, air dan darah, dan ketiganya selaras.
Ke mana perginya Bapa, Firman, dan Roh?
Tak ada dalam semua manuskrip yang ia baca. Maka wajar ia tak memasukannya dalam naskah karyanya.
Hal ini membangkitkan murka para teolog zaman itu dan menuduhnya mengubah-ubah naskah untuk menghapuskan doktrin Tritunggal. Mereka berkeras agar dalam edisi-edisi berikutnya Erasmus mengembalikan ayat itu ke tempatnya. Erasmus, yang merasa terancam bahaya, menyetujui itu.
Edisi-edisi PB Yunani karya Erasmus ini kemudian pada 1611 menjadi dasar pembuatan King James Version (Alkitab bahasa Inggris).[7]
• Dalam 3 manuskrip Yunani dan 2 dokumen Latin, ayat 1 Korintus 14 ayat 34 dan 35, tentang peran perempuan dalam jemaat, tidak ditempatkan setelah ayat 33, tapi setelah ayat 40. Hal ini membuat beberapa cendekiawan menduga bahwa ayat ini tidak ditulis oleh Paulus, tetapi dari semacam catatan pinggir yang dibuat oleh seorang penyalin (yang berparadigma tertentu tentang posisi perempuan dalam jemaat pada zaman itu).
Dugaan ini diperkuat karena kedua ayat ini tidak cocok dengan konteks ayat-ayat sekitarnya. Dalam 1 Korintus 14 Paulus sedang membahas tentang karunia roh dan pengucapan nubuat. Hanya 2 ayat yang membicarakan perempuan :
…(30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat pernyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri.(31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.
(34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suami di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.(36) Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa yang kukatakan padamu adalah perintah Tuhan…
Agaknya jika 2 ayat ini (34 dan 35) dihilangkan, alurnya akan menjadi lebih tepat.
________________________________
[1] Pada 1550 John Mill menerbitkan naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani disertai aparatus berisi perbedaan-perbedaan antara semua bahan (teks kuno) yang masih ia miliki. Aparatus itu memuat sekitar 30.000 perbedaan di antara aparatus-aparatus itu (Bart D. Ehrman, hal. 86).
[2] “Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh…”
[3] Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006, hal. 122. Karena menyatakan hal ini pada umum, Wettstein dicopot dari jabatannya sebagai diakon dan diusir dari Basel.
[4] Sebenarnya manuskrip-manuskrip itu sudah berusia sekitar 1100 tahun dari waktu naskah asli dibuat.
[5] Alkitab dalam terjemahan Bahasa Latin
[6] Saya baru menyadari ada tanda kurung di situ. Silakan cek Alkitab masing-masing
[7] Ehrman, hal. 81 – 82.