Oleh: Lucia Priandarini | Agustus 10, 2009

(Bukan) Dilarang Beribadah

Berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah…
“Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau biarkan dirimu melarat, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Kau kira Aku suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahKu saja. Tidak!”

Semua jadi pucat pasi tidak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia.

(Potongan dari sebuah cerpen AA. Navis, Robohnya Surau Kami)

Oleh: Lucia Priandarini | Juli 28, 2009

Paranoid

Semua kamar kos nyaris penuh. Saya sudah hampir putus asa mencarikan kos untuk adik dari seorang teman yang akan masuk kuliah.
Beberapa menit kemudian…lega luar biasa ketika melihat ada satu rumah yang masih memasang tanda “Terima kos.”
Tapi saat mendekati pintu, kelegaan saya langsung berubah menjadi kekecewaan begitu melihat
papan di depannya bertuliskan :
“Kos khusus muslimah.”
Padahal adik teman saya seorang Katolik.

Memang sih adalah hak pemilik kos untuk menentukan siapa yang boleh
tinggal di rumahnya.
Tapi “penolakan” terhadap seseorang karena identitas AGAMAnya sungguh membuat saya kesal.
Kenapa nggak sekalian aja ditambah :
khusus muslimah + jawa + mahasiswa universitas X + nilai UN minimum X.

Entah mengapa saya jadi minta maaf pada si adik,
seakan-akan saya lah yang memasang papan tersebut.

Jengah!

Oleh: Lucia Priandarini | Juli 24, 2009

The Faith & The Blood

Just watched The Practice at FoxCrime today (I don’t know why I’m addicted to this channel). Surprisingly, di episode ini ada sebuah topik sensitif diselipkan. It’s about faith.

Rebecca Washington (Bec) luka parah terkena ledakan bom yang ditaruh seorang psikopat di kantornya. Bec, yang adalah seorang pengacara, kehilangan banyak darah dan nyaris tak tertolong jika tak mendapat transfusi darah.
Yang mengejutkan, Helene, ibu Bec, menolak keras usaha dokter untuk menyelamatkan nyawa Bec melalui transfusi darah. Padahal tindakan medis seperti transfusi dan operasi tak dapat dilakukan tanpa izin keluarga.

Satu-satunya alasannya adalah : “Kami adalah penganut Saksi Yehova.”

Dalam keyakinan mereka, transfusi darah dilarang dilakukan dengan alasan apapun. Ini merupakan doktrin fundamental Saksi Yehova selain penolakan terhadap seks pra-nikah, perceraian, homoseks, hormat kepada bendera negara,dan larangan untuk menyantap daging (ini kata tokoh di film itu sih. hehe. Please correct me if I’m wrong).

“It’s written in the Bible,” adalah jawaban Helene saat ditanya alasan rasional mengapa Bec tidak boleh menerima transfusi darah.

Demi menyelamatkan hidup Bec, Bobby Donnell, rekan Bec, berusaha mengajukan sidang dengar jawab untuk meyakinkan bahwa Bec bukan penganut Saksi Yehova dengan alasan bahwa selama 12 tahun bekerjasama, Donnell tahu bahwa Bec tidak menentang seks pra-nikah, tidak menentang homoseks, dan ikut membantu proses perceraian para kliennya. Ini berarti ia tidak mendukung prinsip-prinsip utama Saksi Yehova, dan juga bisa diartikan Bec bukan penganut keyakinan ini.

Donnell dan Helenne berbicara as if masing-masing paling tahu apa yang dipercaya dan diinginkan Bec. Padahal sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu pasti apakah Bec menginginkan transfusi darah (terlepas dari apakah ia membutuhkannya atau tidak).

In the end, hakim memutuskan bahwa penolakan seseorang terhadap salah satu doktrin agama bukan berarti bahwa ia menentang doktrin yang lain dari agama tersebut.
Mosi ditolak.
Bec tidak akan mendapat transfusi darah.

Faith is always right (only) for their adherent, regardless others opinion, or whether it makes sense or not.
It refers to ALL faith & religion ^-^.

Oleh: Lucia Priandarini | Juli 24, 2009

Islam is…

Islam

Oleh: Lucia Priandarini | Mei 16, 2009

Kenapa Shalat?

Akhir-akhir ini saya sering tidak khusyuk beribadah.
Lupa sudah rakaat berapa. Yang saya pikirkan hanya “habis ini makan apa ya,”atau”wah,tadi lupa cari data X.”
Saya kehilangan ketakjuban yang saya rasakan saat melakukan sujud untuk pertama kali.

Dalam Lentera Al-Quran, Quraish Shihab mengidentifikasi 3 tipe motivasi orang beribadah.
Tipe pertama : seseorang beribadah dan ber”sengsara”di dunia karena berharap untuk kemudian ditukar dengan kebahagiaan di akhirat.
Filsuf Ibnu Sina mengistilahkan tipe ini sebagai sikap “pedagang.”
Tipe kedua : sikap “budak” atau “buruh.”
Orang beribadah semata-mata karena dorongan takut siksa neraka.
Tipe ketiga adalah seorang “arif,” yaitu yang menyadari betapa besar anugerah Tuhan untuknya. Kesadaran ini mendorongnya untuk beribadah bukan sebagai”balas jasa,”
bukan karena mengharap imbalan surgawi, juga bukan karena takut neraka.
Dari kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan, ia yakin di mana pun ia ditempatkan nanti, penempatan itu pasti yang terbaik.
Apalagi si arif tahu bahwa bukan Sang Maha Kaya yang membutuhkan, tapi dia sendiri yang akan memperoleh manfaat ibadah yang dilakukannya.

Jika tidak tergolong ke tipe manapun, maka kata Pak Quraish, mungkin perlu ditambahkan tipe keempat.
Bukan si arif yang ikhlas, bukan pedagang yang berharap, juga bukan budak yang takut, tapi bagaikan ROBOT yang tidak mengerti esensi dan tujuan ibadah yang dilakukannya.
Ia bekerja sesuai dengan apa yang diprogramkan.
Tidak heran jika melakukan shalat, maka yang ia ingat adalah
bisnis, kebutuhan, dan kesenangan dunia.

Hmmpf…pukulan telak.

Oleh: Lucia Priandarini | April 16, 2009

Indonesia Menanti

Indonesia menanti

Sumber : Eko Prasetyo, Resist Book

(notes : Fernando Lugo belum menjadi presiden saat gambar di atas dibuat)

Oleh: Lucia Priandarini | April 8, 2009

Puasa

“Sakit maag ya, Neng?” tanya seorang ibu yang tenyata memperhatikan saya menenggak Mylanta seperti orang sakau.
“Iya Bu…” jawab saya kikuk.
“Ibu juga sering sakit maag. Ke mana-mana bawa itu,” katanya lagi. Jarinya bergetar saat menunjuk botol yang saya pegang. Beliau pasti sudah berusia sekitar 70-an.
“Minum, Bu…” ,saya menawarkan air mineral yang akan saya minum. Basa basi.
“Silakan, Neng. Ibu puasa,” ujar beliau.
Sedetik saya memandanginya. Tak jadi minum.
Saat itu bukan bulan ramadhan, jadi si ibu berpuasa dengan sukarela.

“Ibu sakit maag tapi sering puasa?” tanya saya dengan bodoh.
Beliau tersenyum. Kerut-kerut wajahnya semakin kentara.
“Puasa itu obat, Neng. Asal ikhlas aja. InsyaAllah nggak sakit,” beliau menjelaskan.
Saya jadi merasa semakin bodoh.
Dulu saya nyaris tidak pernah benar-benar “puasa.”
Well, sebenarnya saya tahu bahwa sifat saya yang pemarah & tak sabaran ini sangat butuh didisiplinkan dengan puasa (saya bisa langsung meledak jika terjadi hal sepele seperti ketika sebuah angkutan umum memotong jalan saya).
Tapi selain karena dulu tak begitu diwajibkan, saya punya sakit maag akut yang sukses menjadi alasan saya menghindari puasa.
Saya akan langsung KO karena perut melilit jika terlambat makan 2 jam saja. Di saat lain saya pernah muntah-muntah setelah minum setengah gelas yoghurt asli. Belakangan, bahkan buah yang tak begitu masam seperti jeruk pun membuat perut saya mual.
Maka perintah dalam Islam untuk berpuasa adalah sesuatu yang terdengar mengerikan bagi saya.
But somehow…kata-kata yang diucapkan si ibu barusan membuat saya ingin mencoba…

Jadilah saya puasa.
Dan…horray! Setiap kali berbuka, saya selalu takjub dan terheran-heran karena meski perut kosong berjam-jam, alhamdulillah tak ada sedikitpun rasa perut melilit.
Sesuatu yang tidak akan terjadi dengan usaha saya sendiri.

Terimakasih pada si ibu yang sudah mengingatkan rumus motivasi beribadah yang benar :-)

Oleh: Lucia Priandarini | Maret 31, 2009

Misquoting Jesus

Misquoting Jesus

Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini : “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis dalam kitab ini.”
(Wahyu 22 : 18 – 19, bagian paling akhir dari Alkitab)

Kata-kata Yesus tak mungkin salah.
Para pengutip, penerjemah dan penafsirnya yang mungkin salah.

• Dalam Markus 2, diceritakan Yesus sedang digugat oleh orang-orang Farisi karena murid-muridnya berjalan melintasi ladang gandum, memakan bulir gandum pada hari Sabat. Yesus ingin memperlihatkan kepada orang-orang Farisi bahwa “hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Dengan demikian mengingatkan mereka tentang apa yang dilakukan Raja Daud dan orang-orangnya yang sedang kelaparan sewaktu memasuki Rumah Allah dan memakan roti persembahan. Di situ dituliskan “sewaktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar.” (Markus 2:26)
Akan tetapi, ada nama yang salah dalam dikutip dalam peristiwa yang dirujuk Yesus (atau dalam hal ini dikutip Markus). Dalam Perjanjian Lama itu (1 Samuel 21:1-6), ternyata tertulis bahwa bukan Abyatar yang menjadi Imam Besar saat Daud melakukan hal itu. Tetapi ayah Abyatar, yaitu Abimelekh yang menjabat sebagai Imam Besar. [1]
(silakan cek Alkitab masing-masing)
Yesus tak mungkin salah.
Lalu apakah Perjanjian Lama yang salah?
Atau Markus yang salah mengutip Yesus?
Atau penyalin lain yang salah mengutip tulisan Markus?
Meskipun ini kesalahan kecil dan hanya sekedar nama, tapi hal ini berarti
bahwa kata-kata dalam Alkitab tidak “tidak bisa salah.”
Apalagi yang dikutip adalah perkataan Yesus sendiri.

• Pada 1715, Johann J. Wettstein, yang mendalami Kodeks Aleksandrius menemukan adanya pengubahan kecil (yang membawa implikasi besar) dalam 1 Timotius 3 : 16. [2] Ayat ini sudah lama digunakan untuk mendukung pandangan bahwa Perjanjian Baru sendiri menyebut Yesus sebagai Allah. Kebanyakan penulis/penyalin manuskrip, termasuk Kodeks Aleksandrius menyingkat nama-nama suci (nomina sacra), di mana semua kata bahasa Yunani untuk Allah (ΘΕΟΣ) disingkat dalam dua huruf, theta dan sigma (ΘΣ), dengan sebuah garis di atas guna menunjukkan bahwa kedua huruf itu adalah singkatan. Apa yang ditemukan Wettstein adalah bahwa garis di atas itu dibuat dengan tinta yang berbeda dengan tinta di sekitarnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa garis itu dibuat belakangan oleh penyalin lain. Selain itu, garis horizontal di tengah huruf yang pertama, Θ, bukanlah bagian yang sesungguhnya dari huruf tersebut. Melainkan garis yang menembus dari balik halaman tua itu. Jadi kata itu sebenarnya bukanlah singkatan theta dan sigma (ΘΣ) untuk Allah, melainkan omikrom dan sigma (OΣ), yang artinya “siapa.” Dengan kata lain, kata itu tidak bicara tentang Kristus sebagai “Allah yang dibuat nyata dalam daging,” tetapi tentang Kristus “yang dibuat nyata dalam daging.”[3]

• Saat membuat edisi pertama Perjanjian Baru bahasa Yunani, Desiderius Erasmus menemukan bahwa ayat 1 Yohanes 5:7-8 dalam manuskrip-manuskrip sumber yang ia pakai[4] berbeda dengan yang tertulis dalam versi Vulgata Latin[5] (yang seperti ditulis dalam Alkitab Bahasa Indonesia sekarang) : sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga : Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi ): Roh, air dan darah dan ketiganya adalah satu.[6]
Tetapi Erasmus tidak menemukannya dalam manuskrip-manuskrip Yunani miliknya, yang hanya tertulis : ada tiga yang memberikan kesaksian, roh, air dan darah, dan ketiganya selaras.
Ke mana perginya Bapa, Firman, dan Roh?
Tak ada dalam semua manuskrip yang ia baca. Maka wajar ia tak memasukannya dalam naskah karyanya.
Hal ini membangkitkan murka para teolog zaman itu dan menuduhnya mengubah-ubah naskah untuk menghapuskan doktrin Tritunggal. Mereka berkeras agar dalam edisi-edisi berikutnya Erasmus mengembalikan ayat itu ke tempatnya. Erasmus, yang merasa terancam bahaya, menyetujui itu.
Edisi-edisi PB Yunani karya Erasmus ini kemudian pada 1611 menjadi dasar pembuatan King James Version (Alkitab bahasa Inggris).[7]

• Dalam 3 manuskrip Yunani dan 2 dokumen Latin, ayat 1 Korintus 14 ayat 34 dan 35, tentang peran perempuan dalam jemaat, tidak ditempatkan setelah ayat 33, tapi setelah ayat 40. Hal ini membuat beberapa cendekiawan menduga bahwa ayat ini tidak ditulis oleh Paulus, tetapi dari semacam catatan pinggir yang dibuat oleh seorang penyalin (yang berparadigma tertentu tentang posisi perempuan dalam jemaat pada zaman itu).
Dugaan ini diperkuat karena kedua ayat ini tidak cocok dengan konteks ayat-ayat sekitarnya. Dalam 1 Korintus 14 Paulus sedang membahas tentang karunia roh dan pengucapan nubuat. Hanya 2 ayat yang membicarakan perempuan :
…(30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat pernyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri.(31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.
(34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suami di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.(36) Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa yang kukatakan padamu adalah perintah Tuhan…
Agaknya jika 2 ayat ini (34 dan 35) dihilangkan, alurnya akan menjadi lebih tepat.

  • **

________________________________
[1] Pada 1550 John Mill menerbitkan naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani disertai aparatus berisi perbedaan-perbedaan antara semua bahan (teks kuno) yang masih ia miliki. Aparatus itu memuat sekitar 30.000 perbedaan di antara aparatus-aparatus itu (Bart D. Ehrman, hal. 86).
[2] “Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh…”
[3] Bart D. Ehrman, Misquoting Jesus, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006, hal. 122. Karena menyatakan hal ini pada umum, Wettstein dicopot dari jabatannya sebagai diakon dan diusir dari Basel.
[4] Sebenarnya manuskrip-manuskrip itu sudah berusia sekitar 1100 tahun dari waktu naskah asli dibuat.
[5] Alkitab dalam terjemahan Bahasa Latin
[6] Saya baru menyadari ada tanda kurung di situ. Silakan cek Alkitab masing-masing
[7] Ehrman, hal. 81 – 82.

Oleh: Lucia Priandarini | Maret 23, 2009

Seorang Muslim di Rumah Bersalib

Mahatma Gandhi pernah berkata, “I like your Christ. But I don’t like your christians. Your christians are so unlike your Christ.”
Hmm…mungkin beliau sedang mengatakan kalimat itu pada orang semacam Bush. Tapi kenyataannya orang yang mengaku muslim, yahudi, budha, dan berbagai pengikut agama lain juga banyak yang berperilaku seperti Bush. Even worst.
Well, I just want to make sure that there are trully christians every where (same goes for moslems, buddhis, jews, etc).

Just like my family.

Saya bersyahadat di Daarut Tauhid (DT) Bandung sehari setelah ulangtahun saya tahun ini (2009). Tentu saja kepergian saya diiringi kemarahan dan isak tangis orangtua saya. But after all, sebulan kemudian ketika saya pulang ke rumah, sudah tak ada salib di kamar saya. Alkitab disimpan di tempat lain, dan ada sebuah sajadah ditaruh di sebelah tempat tidur saya (sajadah itu biasa disediakan untuk pramuwisma di rumah). Ibu saya bahkan menyiapkan makanan setiap kali saya sahur dan buka puasa sunnah.

Perlu sebuah hati yang luar biasa lapang bagi seorang ayah, ibu, dan kakak, untuk tetap tenang menyaksikan anak dan saudara mereka beribadah dengan cara yang berbeda dari mereka. Perlu sebuah ketegaran hati untuk merelakan seorang anggota keluarga tidak lagi ikut ke gereja bersama mereka, dan membiarkan si anak menggelar sajadah, mengenakan mukena, dan membuka Qur’an dalam rumah mereka.
Tidak banyak keluarga seperti keluarga saya.

Saya sangat menghormati & mengagumi mereka.

Oleh: Lucia Priandarini | Maret 20, 2009

S-L-M

S-L-M
ISLAM

Islam berasal dari kata SALAM (salama).
Arti utamanya adalah tenang, telah menunaikan kewajiban, memenuhi kedamaian yang sempurna. Arti lain adalah berserah diri pada Tuhan Pencipta Kedamaian.
Kata benda yang diturunkan dari kata tersebut bermakna perdamaian, salam, keselamatan, dan penyelamatan, juga bermakna berjuang menggapai keadilan.
(Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, hal.158)
Shalom.Salam

“Shalom” (in blue) and “Salām” (in green) mean “peace” in Hebrew and Arabic respectively and often represent a peace symbol.

Sin-Lam-Mim (Hebrew: שלם Š-L-M, Arabic: س ل م S-L-M, Maltese: S-L-M) is the triconsonantal root of many Semitic words, and many of those words are used as names. The root itself translates as “whole, safe, intact”.
In Arabic:
•Salam “Peace”
•As-Salamu Alaykum “Peace be upon you”
•Taslim — “receiving SLM” — to receive a salutation or becoming submitted
•Mostaslim — “wanting to receive SLM” — no longer seeking opposition/conflict, the one who is submitted
•Salem — “subject of SLM” — its SLM, “the vase is SLM”, “the vase is whole/unbroken”
•Musalam — “undisputed”
•Muslim

In Hebrew:
Shalom
•Shalem (שלם) — whole, complete
•Lehashlim (להשלים) — to complete, fill in
•Mushlam (מושלם) — perfect
•Leshallem (לשלם) — to pay
•Tashlum (תשלום) — payment
•Shillumim (שילומים) — reparations
•Lehishtallem (להשתלם) — to be worth it, to “pay”
•Absalom

In Afar:
•Salaamata “peace”

In Akkadian[1]:
•Salimatu “alliance”
•Salimu “peace, concord”
•Shalamu “to be(come) whole, safe; to recover; to succeed, prosper”.
•Shulmu “health, well-being”; also a common greeting

In Amharic:
•Selam

In Maltese:
•Sliem
•Sellem to greet, to salute’

In Aramaic:
•Shlama
•Shalmuta

S-L-M juga merupakan konsonan penyusun kata Yerusalem :
uruuSaLeM

http://en.wikipedia.org/wiki/Islam_(term)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori